Pages

Sabtu, 08 Juni 2013

MESIN USANG DI LAUTAN SERIBU

MESIN USANG DI LAUTAN SERIBU


Agung Priyadi Nugraha (30111352)
agungpriyadinugraha@gmail.com
agung.priyadi.n@studentsite.gunadarma.ac.id

BOGOR | 2DB01 MANAJEMEN INFORMATIKA


Perjalanan ke pulau seribu membutuhkan akomodasi angkutan seperti kapal laut, namun sayangnya kapal-kapal di indonesia kurang begitu layak, hal itu diperjelas dengan kurangnya tertata rapi di salah satu tempat pemberangkatannya yaitu muara angke.

Awal pemberangkatan pada pagi buta kita menggunakan jalur darat dengan menggunakan alat transportasi sejuta umat yaitu kreta api di stasiun citayam.



Sesampainya kita di stasiun kota, kemudian kita langsung sewa angkutan umum yang menuju ke muara angke. Kemudian ketidak rapian dalam pengelolaan penyeberangan kepulau seribu (kita untuk ke pulau tidung) pun mulai sudah terasa, antrean yang tidak beraturan, saling berdesak-desakan, senggol-senggolan pun sudah tidak dapat ditolak lagi karena hanya untuk berebut tempat pertama pemberangkatan.

Setelah mendapatkan kapal penyeberangan untuk kepulau tidung, maka kami pun berangkat. Parno pun sudah terbenak dikepala karena rasa takut yang berlebihan, tetapi setelah 30 menit berjalan saya pun mulai terbiasa. Pada saat itu posisi saya berada didalam kapal bersama yang lainnya, namun serasanya sudah bosan saya pun mulai melangkahkan kaki keluar kapal untuk menghirup indahnya udara dilautan seribu. Sungguh Maha Besarnya Sang Pencipta yang telah menciptakan begitu indahnya alam ini. Tak lama saya keluar teman yang lainpun ikut menyusul dan eksis terhadap kamera tak terbantahkan lagi, kami pun berfoto-foto di tengah perjalanan.





Kemudian tibalah kita di pulau tidung yang begitu indahnya, namun sayang sekali pulau yang indah tapi kurang didukung oleh pemerintah sekitar dimana pulau tidung ini termasuk dalam wilayah Provinsi DKI Jakarta, contohnya jembatan yang menghubungkan pulau terdekat yang dibilang dengan "jembatan cinta", namun tidak cintanya pemerintah sekitar sehingga jembatan cinta itu sudah usang tergerus oleh waktu.







Setelah 2 hari kita di pulau tidung, maka saatnya kita kembali berkemas untuk pulang kerumah. Kami pada waktu itu pulang dengan kapal pemberangkatan jam 9 pagi dari pulau. Setelah semuanya masuk kedalam kapa maka kapalpun siap untuk diberangkatkan, namun pada saat pertama masuk saya sudah merasa hal aneh yang terjadi pada kapal yang kami naik ini. Sayapun berdoa agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Saya pun menghibur diri agar tidak terpikirkan, pada saat itu kami bermain cepat tepat didalam kapal, namun  ditengah perjalanan kapal yang tadi saya memang merasa hal aneh itu miring sekitar 75 derajat, para penumpangpun mulai panik ditambah ombak pagi yang agak sedikit menakutkat dimana angin waktu pagi pun kencang. Kami dan khususnya saya mensudahi permainan tadi dan berdoa agar kami bisa selamat. Sepanjang perjalan kapal itu miring apalagi pada saat ombak menabrakan diri kebadan kapal maka kemiringan kapalpun sangat terasa, semua penumpang pun mengambil pelampung yang tersedia untuk keselamatan karena tingkat panik yang mulai tinggi, dan ada pula penumpang yang menangis dan berdoa. Namun sudah sekiranya dua jam terombang-ambing di laut seribu akhirnya daratan pun sudah mulai terlihat kamipun mengucap syukur, setelah mulai masuk ke pelabuhan perasaan saya akan terjadi apa-apa, karena kapal yang masuk pelabuhan itu tidak sesuai dengan jalur yang tersedia. Ternyata pada saat kapal akan dibalikan, badan kapal bagian belakang itu menabrak kapal lainya, penumpang yang ada dipinggir kapal sebelumnya saya kasih tahu untuk pindah dari situ, awalnya menghiraukan namun saya berteriak sekali lagi untuk menghidar dari situ dan diapun pindah, tak lama dari situ ternyata kapal pun menabrak bagian kapal yang lain, dan langsung hancur bagian pinggir kapal yang kami tumpangi, itu merupakan pengalaman yang terburuk yang tidak mau terulang lagi.   

0 komentar:

Posting Komentar